Kekerasan seksual yang sudah menjadi berita sarapan
sehari-hari masyarakat Indonesia, kian hari semakin marak terjadi. Jadi, siapa
yang salah? Mengapa kekerasan seksual, khususnya perempuan sebagai korban,
seakan tidak pernah surut?
Kekerasan seksual adalah perilaku
pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan
untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik
merujuk pada seks. Kekerasan seksual bisa terjadi pada siapapun, dimanapun, dan
kapanpun.
Stigma yang tumbuh di kalangan masyarakat Indonesia, adalah
bahwa perempuan sebagai pemicu munculnya tindakan seorang lelaki yang melakukan
kekerasan seksual, terutama dalam cara berpakaian korban perempuan tersebut.
“Makanya, jaga
pakaiannya dong. Pakaian nya pasti terbuka gitu, ngundang penjahat aja.” “Yang
cewek pasti goda-goda cowok nya duluan.” “Pakai baju nya yang tertutup dong.” dan masih banyak serentetan stigma
yang menyalahkan perempuan.
Saya sadar, tidak semua cara berpakaian seorang wanita selalu
dibenarkan. Buktinya, dalam beberapa agama, peraturan berpakaian seorang wanita
diatur, bukan? Tidak perlu jauh-jauh, pergi ke tempat ibadah pun, kita juga harus
menggunakan pakaian yang sopan, kan. Berarti, salah perempuannya dong?
Saya tidak menyalahkan salah satu pihak, tidak. Menurut saya,
sudah seharusnya perempuan bisa menjaga dirinya dengan tidak menggunakan pakaian-pakaian
yang tidak pantas dan dapat mengundang kejahatan. Tetapi, masyarakat tidak seharusnya
victim blaming pada korban. Karena, tidak
selalu dan banyak perempuan berpakaian sopan yang menjadi korban kekerasan seksual.
Adanya stigma-stigma tersebut, membuat para korban tidak
berani speak up dan mengadukan kasus
tersebut karena takut dianggap aib dan disalahkan oleh masyarakat sekitar.
Padahal, keadilan harus ditegakkan, dan kejadian seperti itu akan terus
berulang seperti siklus bila tidak ditindaklanjuti.
Perempuan sebagai korban seharusnya tidak dicecar dan tidak
disalahkan. Tidak ada pihak yang ingin dan senang menjadi korban kekerasan
seksual.
"Seakan tidak pernah surut."
Comments
Post a Comment