Ini akan menjadi suatu paragraf panjang, mungkin?
Malam itu, mereka kembali.
Mereka datang bertubi-tubi, beramai-ramai, berbondong-bondong. Aku yang membukakan pintu untuk mereka, dan aku mengizinkan mereka bertamu. Aku pikir mereka ingin datang berkunjung untuk bersilahturahmi, sudah lama rasanya mereka tidak menengokku.
Ternyata aku salah. Mereka datang, untuk mengepungku kembali, untuk mengeroyokku kembali, untuk menghancurkanku kembali. Hm, salahku.
Pikiran itu muncul kembali, rasa sedih itu datang dan menghinggap kembali. Apa lagi yang salah dengan diriku? Tidak, aku tidak ingin merasakan rasa ini. Tidak akan kubiarkan rasa ini menguasai dan mengendalikan diriku.
Aku ambil pisau itu, ku tusukkan, dan ku goreskan pada lembaran kulit pada tubuhku untuk membunuh mereka. Dengan itu, rasa sedih pun berubah menjadi rasa sakit yang lebih nyata dan dapat diterima dengan akal sehat.
Mereka diam, mereka membisu.
Ku goreskan berkali-kali lagi, hingga darah mengucur hebat.
Aku tersenyum, air mataku ternyata mengalir. Aku menangis hebat. Tidak apa-apa. Setidaknya aku menang. Aku berhasil membungkam mereka.
Aku menang.
Comments
Post a Comment